KARAWANG — Salam Sejahtera sahabat tabloidhitz. Kita tentu mengenal puisi Kerawang-Bekasi yang diciptakan bapak Chairil Anwar. Seorang penyair terkemuka Indonesia yang menghasilkan 96 karya Dimana 70 diantaranya adalah puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Puisi kerawang Bekasi menceritakan semangat perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan dalam perang kemerdekaan 1945-1949. Namun tahukah rekan-rekan bila puisi Kerawang Bekasi lahir dari kisah pembantaian yang dilakukan tentara Belanda terhadap pejuang dan rakyat biasa di kawasan Rawagede.

Foto-foto saat Irfan berkunjung ke Monumen dan Museum rawagede bisa di saksikan di cahnnel youtube Irfantraveller melalui deretan foto diorama, patung, hingga arsitektur monumen, terekam kisah perjuangan rakyat Karawang yang menjadi latar inspirasi salah satu karya sastra terbesar Indonesia
Tragedi Kelam 9 Desember 1947
Monumen ini berdiri di Desa Balongsari (dahulu bernama Desa Rawagede), Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat [00:12]. Tempat ini menjadi saksi peristiwa pembantaian pada 9 Desember 1947, di mana tentara Belanda di bawah pimpinan Mayor Alphons Wijnen mengepung desa dan mengeksekusi sekitar 431 warga sipil [00:38].
Aksi penembakan massal tersebut dilakukan setelah para penduduk desa menolak memberikan informasi terkait keberadaan Kapten Lukas Kustaryo, salah seorang tokoh pejuang Republik Indonesia [01:02]. Atas peristiwa pembantaian ini, pada tahun 2011 Pengadilan Den Haag akhirnya memutuskan pemerintah Belanda bertanggung jawab dan memberikan kompensasi kepada para janda serta korban yang masih hidup [01:18].
Arsitektur Penuh Makna dan Diorama Perjuangan
Foto-foto yang diabadikan Irfan menampilkan berbagai sudut penting di dalam kompleks monumen:
Arsitektur Piramida: Monumen berbentuk piramida setinggi 5 meter yang terbagi menjadi 4 bagian, melambangkan tahun 1945 [03:00]. Monumen ini juga dilengkapi 17 anak tangga menuju lantai atas sebagai simbol tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 [03:00].
Diorama Sejarah: Reka adegan yang menggambarkan proses interogasi warga oleh pasukan Belanda hingga perlawanan sengit pejuang dan rakyat setempat [00:51].
Patung Ibu dan Penggalan Puisi: Patung perunggu yang menggambarkan seorang ibu memeluk dua putranya yang gugur dalam pembantaian [01:51]. Tepat di atas patung tersebut terukir penggalan puisi legendaris “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar [02:03]. Puisi ini lahir dari kepiluan tragedi Rawagede dan pertempuran rakyat melawan penjajah [02:17].
Taman Makam Pahlawan Sampurnaraga: Di bagian depan kompleks monumen terdapat sekitar 181 makam korban pembantaian yang disemayamkan secara terhormat [02:45].
Dokumentasi video selengkapnya dapat disaksikan melalui kanal YouTube irfantraveller. https://www.youtube.com/watch?v=jpWRGFwIiEU
Bapak, ibu dan rekan-rekan yang ingin berwisata bersama keluarga, sekolah, universitas bisa menghubungi
Irfantraveller ( Fotogarfer-Tour bahasa Inggris bersertifikasi BNSP dan dinas parwisata DKI Jakarta
WA 081310219179
Instagram @irfantraveller
Tiktok @irfantraveller21

