Halo sahabat tabloidhitz. Beberapa waktu lalu Irfan berkunjung ke Kawasan Banten lama. Dinamakan Banten lama karena di masa kesultanan Banten (Abad 16 hingga awal abad 19 Masehi) tempat ini menjadi ibukota kesultanan Banten yang merupakan salah satu kekuatan maritim nusantara saat itu yang di segani dunia. Ada satu batu yang berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan pajajaran dan kesultanan Banten, nama batu itu adalah Watu gilang disebut juga Palangka Sriman Sriwacana kini batu bersejarah dan keramat ini ada di halaman reruntuhan keraton Surosowan,
Sepintas Watu Gilang adalah batu yang permukaannya halus dan mengkilap berbentuk persegi panjang dengan ukuran:
- Panjang: 190 cm
- Lebar: 121 cm
- Tebal: 16,5 cm
Menurut sejarahnya ini adalah batu yang digunakan untuk menobatkan raja-raja Pajajaran lalu sultan-sultan Banten.
“Lalu bagaimanakah kisahnya hingga bisa berada di halaman keraton Surosowan?”. Di abad 16 Masehi, Kerajaan Pajajaran yang merupakan Kerajaan besar di bagian barat pulau jawa mulai mengalami kemunduran selepas wafatnya prabu siliwangi. Raja-raja pajajaran berikutnya di mulai dari prabu Surawisesa, Ratu Dewata, Ratu Sakti, Ratu Nilakendra atau Tohaan di Majaya, Raga Mulya semakin keras berkonflik dengan kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten serta kesultanan Demak.

Akibat konflik ini Pajajajaran terus kehilangan wilayah pentingnya seperti Sundakelapa (kini Jakarta), bahkan di masa Raga Mulya keraton pajajaran di pakuan ditinggalkan dan di pindah ke wilayah Pandeglang. Setelah Berjaya selama ratusan tahun, Kerajaan pajajaran runtuh di tahun 1579 M saat ibukota Pajajaran baru di pandeglang berhasil di rebut pasukan Banten yang di pimpin oleh Maulana Yusuf ( kelak menjadi Sultan ke dua Banten yang memerintah dari tahun 1570–1585.
Dalam penaklukan ini Maulana Yusuf juga membawa Watu gilang dari keraton pajajaran ke keraton Banten
“Mengapa batu ini di bawa dari Pajajaran ke Banten? “
• Mematikan Legitimasi: Menurut tradisi politik saat itu, seorang calon raja Pajajaran hanya sah jika dinobatkan di atas Watu Gilang. Dengan diboyongnya batu tersebut ke Banten, maka secara otomatis tidak ada lagi raja baru yang bisa diangkat di Pakuan. Hal inilah yang secara de facto dan de jure mengakhiri riwayat Kerajaan Pajajaran.
•Klaim Pewaris Sah: dengan dipindahkannya watu gilang ke Banten. Maka Banten dapat mengklaim sebagai penerus sah takhta Sunda karena Sultan-sultan Banten memiliki garis keturunan (buyut) dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) yang merupakan raja Pajajaran
•Simbol keberlanjutan: Pemindahan ini juga memabawa pesan politik bahwa “Pajajaran tidak hilang, melainkan berpindah bentuk menjadi Kesultanan Banten.”
Dari Watu Gilang kitab isa belajar mengenai sejarah 2 kerajaan besar yaitu Pajajaran dan Banten Nah Video lengkap sudah kita tayangkan di channel youtube Irfantraveller https://www.youtube.com/watch?v=Cfg85dfwWtE
Irfantraveller sebagai certified English Speaking Tour guide dapat Menyusun rencana tour dan membawakan tour baik privat maupun kelompok bagi rekan-rekan yang ingin berwisata sejarah, kuliner, budaya di Jakarta maupun kota-kota lain untuk tour yang pernah dijalankan bisa di lihat di https://www.instagram.com/irfantraveller/?hl=en

