Jakarta, 11 Februari 2026 — Suasana hangat dan penuh antusiasme terasa di Markas Komunitas Table 38, kawasan Mangga Besar, Rabu (11/2) pukul 16.00 WIB. Sebanyak 25 tour leader berpengalaman, khususnya yang memiliki pengalaman perjalanan pilgrim, berkumpul dalam forum sharing dan diskusi bertema Sejarah Kristiani dan Napak Tilas Santiago de Compostela Pilgrimage (Camino de Santiago).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Santoso Jantuna, Ketua Komunitas Tour Leader Table 38, dengan menghadirkan Aldo Rinaldi, Ketua Komunitas Tour Leader Pencinta Sejarah, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, *Aldo Rinaldi* mengulas perjalanan panjang sejarah Kristiani, dinamika peradaban, serta jejak spiritual yang membentuk tradisi pilgrim hingga hari ini. Sementara itu, *Santoso Jantuna* membagikan pengalaman empirisnya memimpin rombongan Camino de Santiago beberapa kali sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya menguji fisik, tetapi juga memperkaya batin para peziarah.
Diskusi berlangsung hidup, reflektif, dan inspiratif. Para peserta tidak hanya mendapatkan penguatan historis dan spiritual, tetapi juga insight praktis dalam memimpin perjalanan bertema religi dan heritage. Atmosfer dialog yang cair menunjukkan bahwa komunitas adalah ruang belajar yang nyata bagi profesi tour leader.
*Dari Sejarah ke Masa Depan Profesi*
Tidak berhenti pada diskusi sejarah, forum berkembang membahas fenomena terkini profesi tour leader. Isu-isu strategis mengemuka:
– Posisi dan peran ITLA sebagai asosiasi profesi
– Program yang dibutuhkan anggota
– Hubungan asosiasi dan komunitas
– Standar kualitas dan kompetensi tour leader
– Kesejahteraan dan fee tour leader
– Sertifikasi profesi
– Program pengembangan Tour Leader Next-Level ITLA
Diskusi ini memperlihatkan kesadaran kolektif bahwa penguatan profesi tidak bisa hanya bertumpu pada struktur organisasi, melainkan harus tumbuh dari komunitas yang aktif, saling belajar, dan saling mendukung.
Ketua Umum ITLA, Bob Moningka, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya komunitas sebagai fondasi asosiasi:
“Asosiasi bisa berdiri karena legalitas, tetapi ia hanya bertumbuh karena komunitas. Bagi ITLA, kekuatan terbesar bukan pada jabatan, melainkan pada kebersamaan dan profesionalisme anggotanya.”
Pernyataan ini mempertegas arah gerak ITLA ke depan bahwa legalitas adalah fondasi administratif, tetapi roh organisasi ada pada partisipasi dan kualitas komunitasnya.
*Menuju Program “Explore Places” ITLA*
Sebagai tindak lanjut, forum menyepakati bahwa program sharing akan berlanjut dalam format yang lebih terstruktur melalui program “Explore Places” ITLA, dengan narasumber yang sama. Program ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran berkelanjutan, memperluas wawasan destinasi, sejarah, spiritualitas, dan penguatan kompetensi tour leader Indonesia.
Pertemuan di Table 38 bukan sekadar diskusi biasa. Ia menjadi cermin bahwa asosiasi yang kuat tidak lahir dari formalitas, melainkan dari komunitas yang hidup, berdialog, dan bergerak bersama.
Karena pada akhirnya, asosiasi bukan sekadar organisasi tetapi ekosistem profesional yang bertumbuh dari semangat kolektif anggotanya.
