Koleksi Museum ambarawa

AMBARAWA – Hai sahabaa tabloidhitz, sejarah perkeretaapian di Indonesia sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu. Seiring berjalannya waktu dari stasiun serta jalur rel kereta api yang di bangun di mas Hindia Belanda dari abad 19 hingga abad 20 M. ada yang masih digunakan namun juga ada yang sudah tidak berfungsi.

Kali ini kita akan mengunjungi salah satu stasiun Kereta api yang di bangun oleh pemerintah Hindia Belanda dan kini menjadi museum kereta api yang di kenal sebagai Museum Kereta Api Ambarawa. Kita mengunjungi museum ini setelah sebelumnya mengunjungi Monumen dan Museum palagan Ambarawa yang menyimpan koleksi sejarah pertempuran Ambarawa yang terjadi di awal berdirinya Republik Indonesia (RI)

Menurut sejarahnya Museum Kereta Api Ambarawa dulunya dikenal sebagai Stasiun Willem I, yang pertama kali diresmikan pada 21 Mei 1873 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Awalnya, stasiun ini berfungsi sebagai pusat transportasi militer dan hasil bumi. Pada 8 April 1976, stasiun ini resmi ditutup lalu dialihfungsikan menjadi museum oleh Gubernur Jawa Tengah guna melestarikan sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Koleksi di dalam museum ini sangat mengesankan dengan jajaran 26 lokomotif bersejarah. Salah satu primadonanya adalah lokomotif uap bergerigi seri B25 buatan pabrik Maschinenfabrik Esslingen, Jerman pada tahun 1902. Menariknya, lokomotif uap ini beroperasi menggunakan bahan bakar kayu jati untuk memanaskan ketel uapnya, bukan batu bara. Roda giginya difungsikan khusus agar kereta mampu menanjak di jalur miring dengan kemiringan hingga 6,5% seperti pada rute ekstrem Ambarawa-Bedono. Selain lokomotif uap, ada pula koleksi lokomotif diesel pertama di Indonesia, yakni CC 200 dari Amerika Serikat (1952) yang dahulu diresmikan langsung oleh Presiden Ir. Soekarno.

Selain melihat gerbong kuno, telegraf morse, dan mesin cetak tiket antik, daya tarik utama bagi wisatawan adalah menaiki Kereta Api Wisata Heritage. Terdapat rute reguler yang melayani perjalanan wisata Ambarawa menuju Tuntang pulang-pergi, serta rute sewa khusus Ambarawa–Jambu–Bedono yang mengandalkan tenaga sang lokomotif uap bergerigi.

Karena keaslian bangunan stasiun, peralatan lawas, dan rel keretanya yang sangat estetik, tak heran jika kawasan Museum Kereta Api Ambarawa sering dijadikan latar lokasi syuting film-film besar bernuansa sejarah. Berbagai film layar lebar tanah air seperti Sang Pencerah (2010), Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011), Sugija (2012), Soekarno (2013), hingga Buya Hamka (2023) pernah direkam di sini.

Museum Kereta Api Ambarawa buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, yaitu Rp 20.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak, sementara tarif tiket kereta wisatanya berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Rencanakan Perjalanan Wisata Anda ke Ambarawa dan Semarang!

Bapak, Ibu, dan rekan-rekan yang ingin berwisata ke Semarang dan Ambarawa dengan nyaman, terencana, serta penuh nilai edukasi sejarah, dapat menghubungi Irfantraveller (Fotografer – Tour Guide Bahasa Inggris dan Konten Kreator).

Irfantraveller siap membantu membuatkan paket tour yang dirancang secara khusus sesuai dengan durasi dan kebutuhan wisata Bapak dan Ibu.

Untuk konsultasi paket tour dan dokumentasi liburan, silakan hubungi:

WhatsApp: 0813 1021 9179
Instagram: @tabloidhitz-com
TikTok: @irfantraveller21

Tonton juga ulasan visual dan dokumentasi lengkap mengenai sejarah dan megahnya koleksi Museum Kereta Api Ambarawa melalui tautan video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=8y22pWVvv_s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *